RSS

Laporan Teori Psikososial Erikson

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
TEORI PSIKOSOSIAL ERIKSON



Arief Rahman Tori (12320341)
Retno Astuti (13320290)
Hilyah Kamilah (13320300)



PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

BAB I
TEORI PERKEMBANGAN ERIKSON

Erik Erikson lahir di Franfrurt Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902 adalah ahli analisa jiwa dari Amerika, yang membuat kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang psikologi pada pengembangan anak dan pada krisis identitas. Ayahnya (Danish) telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Hingga akhirnya saat remaja, ibunya (yang seorang Yahudi) menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger. Erikson kecil bukanlah siswa pandai, karena ia adalah seorang yang tidak menyenangi atmosfer sekolah yang formal. Ia oleh orang tua dan teman-temannya dikenal sebagai seorang pengembara hingga ia pun tidak sempat menyelesaikan program diploma. Tetapi perjalanan Erikson ke beberapa negara dan perjumpaannya dengan beberapa penggiat ilmu menjadikannya seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan. Pertama ia berjumpa dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu Anna Freud. Dengan dorongannya, ia mulai mempelajari ilmu tersebut di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Terakhir pada tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas Harvard (Desyandri dalam desyandri.wordpress.com).
Teori perkembangan atau teori psikososial Erikson merupakan perkembangan dari teori psikoseksual Freud. Erikson merupakan mahasiswa Freud. Mulanya Erikson seorang Freudian namun seiring perjalanan waktu Erikson tak sepenuhnya penganut freud, Menurut Erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesis, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan, dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial, ia pun berpendapat bahwa manusia dalam tahap perkembangannya mengalami krisis-krisis (Desyandri dalam desyandri. Wordpress.com).
Ada delapan tahapan dalam tahap perkembangan menurut Erikson:
a. Tahap Pertama (Rasa Percaya versus Tidak Percaya)
Tahap ini mulai muncul pada bayi yang baru lahir hingga usia satu tahun. Ini merupakan tahap awal bagi bayi untuk mengenal egonya untuk berkembang dengan dunia sosial. Bayi mulai merasakan perhatian dan perlakuan yang diberikan oleh orang tunya. Ketika bayi merasa lapar, basah atu kedinginan, orang tua langsung menengok dan membuatnya keluar dari rasa tidak nyaman tersebut. hal itu membuktikan bahwa orang tua selalu ada ketika dibutuhkan. dengan begitu, bayi mampu memahami bahwa orang tuanya dapat diandalkan sehingga timbullah rasa percaya. Rasa percaya merupakan sebuah pengertian bahwa orang lain dapat diandalkan dan diprediksi (William,2007).  Namun dapat timbullah perasaan yang sebaliknya, yaitu rasa tidak percaya. Perasaan tersebut akan muncul apabila bayi merasa orang tuanya tidak dapat diandalkan, atau mungkin tidak pernah datang ketika dibutuhkan. Erikson menyarankan agar orang tua tidak terlalu cepat untuk menyapih bayinya. Karena jika hal itu terjadi, bayi akan merasakan perawatan yang tidak sesuai sehingga timbul rasa tidak percaya.
Menurut Erikson (dalam Willam, 2007) bayi juga harus memilki rasa tidak percaya, agar dapat percaya melalui kepekaan dan ketepatan. Apabila bayi hanya mengembangkan rasa percaya maka akan mudah ditipu. Namun, akan menjadi sesuatu hal yang penting untuk dimengerti apabila bayi memiliki rasa percaya diri yang lebih dari rasa tidak percaya. Karena hal itu dapat membuat bayi akan mengembangkan kekuatan inti ego pada periode ini, yaitu yang disebut harapan. Akan selalu timbul persaan berharap dalam setiap menerima atau menginginkan sesuatu. Harapan adalah sebuah keinginan atau pencapian yang sekalipun terdapat rasa frustasi, marah atau kecewa, hal-hal baik yang tetap akan terjadi di masa depan (William, 2007). Harapan akan membuat anak bergerak maju untuk menyambut tantangan-tantangan baru dari dunia luar.
b. Tahap Kedua (Otonomi versus Rasa Malu dan Ragu-ragu)
            Pada anak yang berusia 1-3 tahun sudah mampu memilih rangsangan yang diterimanya. Anak dapat memegang apapun yang diinginkan, dan melempar atau membuang yang tidak diinginkan. Hal ini menunjukan anak mulai melatih kehendaknya, tepatnya otonomi. Otonomi merupakan suatu kematangan biologis yang mengembangkan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Anak sudah mulai berdiri dan berjalan sendiri, mampu menunjuk benda dengan jari-jarinya, memegang sendok atau garpu sendiri. Anak mulai meminta untuk diperbolehkan makan sendiri meskipun makanannya menjadi berantakan. Ketika anak mulai mendesak ingin makan sendiri, terkadang orang tua berusaha untuk mengatur tingkah laku anak, dan anak harus menurutinya. Peristiwa ini menunjukan bahwa orang tua menginginkan anak untuk hidup di masyarakat dengan menghargai keinginan orang lain, dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial.
            Menurut Erikson (dalam William, 2007) peristiwa atau konflik yang terjadi pada tahap ini sebagai bentuk otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu. Otonomi merupakan kehendak anak untuk melakukan segala hal dengan caranya sendiri. Otonomi ini muncul dari dalam diri. Rasa malu dan ragu-ragu timbul dari kesadaran akan ekspetasi dan tekanan sosial. Bagi anak yang mampu menyeimbangkan rasio otonomi lebih dari rasa malu dan ragu-ragu, maka anak tersebut akan mengembangkan kekuatan ego dalam bentuk “kehendak” yang kokoh. Kehendak meruapakan kebulatan tekad yang tidak bisa dipatahkan untuk melatih pilihan bebas dan pengendalian diri. Jadi pada tahap ini anaklah mampu mengontrol rangsangan yang diterima serta memilki kehendak atas dirinya sendiri.
c. Tahap Ketiga (Inisiatif versus Rasa Bersalah)
Tahap ketiga ini muncul pada anak berusia 3-6 tahun. Menurut Freud anak pada usia ini tengah memasuki tahap falik. Tahap dimana anak mulai merasakan sensasi seksualnya untuk pertama kali. Selain itu, anak juga mulai tumbuh dalam keberanian, keingintahuan dan hasrat persaingan. Erikson menyebutkan mode utama di tahap ini adalah intrusi, berarti bergerak ke depan. Intrusi ini merupakan salah satu bentuk dari inisiatif. Lewat inisiatif, anak mulai membuat rencana, memiliki tujuan dan mempunyai semangan untuk mencapainya. Namun, masalah yang akan timbul dalam tahap ini apbila harapan dan rencana terbesar yang dimiliki anak hancur berantakan, karena tidak sesuai dengan norma atau aturan sosial yang berlaku. Anak akan memiliki rasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya. Karena itu, anak mulai mengahayati aturan-aturan sosial dan mulai megendalikan diri.
d. Tahap Keempat (Industri Versus inferioritas)
Dalam tahap ini anak usia 6-11 tahun cenderung tenang dan stabil, tidak ada gejolak dalam insting maupun dorongan seperti halnya pada tahap falik. Meskipun tenang, tahap ini justru paling menentukan bagi pertumbuhan ego. Anak mulai belajar menguasai kemampuan kognitif dan sosial. Krisis yang muncul dalam tahap ini adalah industri vs inferioritas. Industri merupakan bentuk belajar anak dalam melakukan pekerjaan yang bermakna serta mengembangkan kekuatan ego. Bahaya di tahapan ini adalah perasaan berlebih-lebihan karena ketidaktepatan dan inferioritas. Anak memiliki perasaan rendah diri, merasa tidak mampu menyelesaikan konflik yang dihadapi pada tahap-tahap sebelumnya, sehingga anak merasa tidak percaya diri saat melakukan tugas-tugas baru. Kata Erikson, masalah di tahap ini akan membawa anak kepada penguatan ego yang disebut kompetisi, yaitu sebuah latihan intelegensi dan kemampuan menyelesaikan tugas, tanpa diganggu perasaan inferioritas.
e. Tahap Kelima (Identitas versus Kebingungan Peran)
Krisis identitas sering terjadi pada masa remaja. Remaja merasa impuls-impuls yang diterima tidak lagi menyatu dengan dirinya. Selain itu, pertumbuhan fisik yang sangat cepat pada masa pubertas dapat menumbuhkan rasa kebingungan identitas. Remaja mulai tidak percaya dengan dirinya sendiri, mulai ketakutan tidak terlihat baik atau tidak memenuhi harapan orang lain, dan khawatir dengan masa depannya. Mental remaja memang berkembang pesat, tetapi disatu sisi remaja juga mudah mudah terpengaruh dengan tawaran yang datang.
Pembentukan identitas merupakan proses yang terjadi di dalam ketidak sadaran. Remaja hanya menyadari kejadian pahit karena tidak mampu membuat komitmen. Remaja merasa terlalu banyak yang harus diputuskan segera, dan bahwa setiap keputusan mengurangi alternatif lain dimasa depan. Jadi, tugas utama  remaja adalah menemukan cara hidup dalam membuat komitmen yang permanen. Perjuangan di tahapan ini membawa pada kekuatan ego baru dalam bentuk kesetiaan, yaitu sebuah kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang sudah diniati sejak dulu.
f. Tahap Keenam (Keintiman versus Isolasi)
            Tahapan ini dapat disebut dengan tahapan dewasa muda. Di tahapan ini manusia mulai mendalami kapasitas mencintai dan memperhatikan orang lain. Tahapan ini juga masih menjadi tempat anak muda menemukan jati dirinya dengan cara melakukan percakan mengenai perasaan yang sesungguhnya, mengenai rencana, harapan dan cita-cita. Anak muda terlalu asik dengan tugasnya menyongsong masa denpan untuk mencapai keintiman. Keintiman yang rill adalah satu-satunya perasaan identitas yang masuk akal. Namun, apabila gagal mencapainya manusia akam mengalami isolasi. Tidak ada pasangan yang mengalami keintiman total, pasti ada yang mendapatkan pengisolasian. Apabila ada yang memiliki keintiman lebih dari isolasi maka kaum dewasa muda dapat mengembangkan kekuatan ego yang disebut cinta yang dewasa.
g. Tahap Ketujuh (Semangat Berbagi versus Penyerapan Diri dan Stagnasi)
Dalam tahapan dewasa ini manusia tidak hanya focus pada diri sendiri tetapi mulai peduli dengan membesarkan generasi selanjutnya. Menurut Erikson, manusia dewasa memasuki tahapan semangat berbagi versus penyerapan diri dan stagnasi. Semangat berbagi memiliki makna yang luas, bukan hanya mengacu pada memproduksi anak, tetapi juga memproduksi ide-ide dalam pekerjaan. Orang tua harus rela mengorbankan kebutuhan pribadi demi memperhatikan, melindungi, membimbing anaknya. Jika orang tua terlalu fokus dalam memuaskan diri sendiri maka akan mengalami stagnasi.
h. Tahap Kedelapan (Integritas Ego versus Keputusasaan)
            Harus ada banyak penyesuaian, baik fisik maupun sosial yang dilakukan oleh para lansia. Karena para lansia sudah tidak seaktif dulu. Tidak hanya penyesuaian dari luar saja tetapi pergulatan batin yang berpotensi mencapai kebijaksanaan. Pergulatan batin pada lansia dapat menumbuhkan kekuatan ego yang disebut kebijaksanaan. Pergulatan ini disebut dengan integritas ego versus keputusasaan. Terkadang lansia mengingat-ingat kembali hidupnya, apa yang telah dilakukannya, atau apakah hidupnya selama ini sudah bermakna. Dalam proses ini timbul rasa putus asa, merasa bahwa hidupnya dulu tidak sesuai keinginan, tapi apa daya semua telah berlalu.  Semakin para lansia mengahadapi rasa putus asa, akan semakin berusaha menemukan pengertian mengenai integritas ego. Integritas adalah perasaan yang berkembang melampaui diri bahkan mengutamakan ikatan-ikatan nasional dan ideologis (William, 2007).



BAB II
STUDI KASUS

a.       Kasus 1
Anak Tidak Mau Sekolah
Sudah hampir tiga minggu anak sulung saya, Melody “mogok” sekolah. Alasannya “Aku capek, Mami”. Cukup masuk akal juga sih, melihat jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh dan melewati beberapa titik rawan macet sehingga ia harus bangun harus sangat pagi, dan paling lambat pukul 6 pagi harus sudah berangkat ke sekolah. Tidak jarang ia tertidur dalam perjalanan ke sekolah. Awalnya saya pikir hanya 2 atau 3 hari saja ia tidak mau bersekolah, tapi ternyata sudah lewat seminggu pun ia tetap ngotot tidak mau besekolah.
Saya lalu mencoba mengajaknya berbicara dari hati ke hati.
Melody: “Aku mau sekolah di rumah saja, Mami yang mengajariku. Di sekolah aku disuruh menulis melulu, aku tidak suka menulis, aku sukanya membaca”
Mami: “Kan di sekolah juga ada membacanya”
Melody: “Aku kan sudah bisa membaca dan menulis, buat apa belajar di sekolah lagi. Aku bosan. Aku mau belajar di rumah saja, kan Mami juga bisa ajarin aku”
Mami: “Melody tidak kangen sama teman-teman sekolah?”
Melody: “Kangen sih Mi, tapi kalau ketemu teman-teman kan tidak harus di sekolah, kita main aja ke rumah mereka.”
Mami: “Kenapa sih kok kamu tidak mau sekolah? Apa ada teman teman yang tidak baik sama kamu? Apa guru Melody jahat?”
Melody: “Tidak, semua baik sama aku, tapi aku bosan dan capek sekolah. Aku senangnya belajar di rumah sama Mami.”
Jawabannya selalu begitu terus, akhirnya saya putuskan untuk “break” sementara waktu sambil me-review apa sih sebenarnya yang dia cari, sambil saya ajari sendiri saat ia tidak bersekolah. Seminggu berlalu aku melihat kemampuan membaca dan menulis Melody berkembang sangat pesat. Demikian juga pengetahuan yang lainnya, seperti pengetahuan tentang alam, saat ia bertanya “Apa itu tsunami, Mami?” saya berusaha menjelaskan dengan gamblang dan memberikan contoh ketika tsunami menerpa. Lalu pada saat dia bertanya tentang asal-usul telur, bagaimana tumbuhan hidup selain menjelaskan, kami melakukan percobaan kecil tentang apa yang sedang kami bicarakan.
Lalu saya tergoda juga untuk mencoba beberapa soal pelajaran kelas 1 SD, ternyata Melody bisa menyelesaikannya dengan baik. Saya sadar, mungkin metode pembelajaran seperti ini yang Melody inginkan, pada saat benaknya dipenuhi dengan segala macam pertanyaan yang menurut sekolah “belum waktunya diajarkan”. Hal itu membuat rasa rasa ingin tahunya terbelenggu dan merasa bosan. Selain itu Melody adalah tipikal anak yang kalau belajar maunya guru itu ada di dekatnya, sehingga bila dia bertanya sang guru akan selalu siap menjawab pertanyaannya. Sementara di sekolah formal tentu saja tidak bisa seperti itu, karena satu guru harus “melayani” berapa belas, bahkan berapa puluh anak.
Akhirnya setelah berkonsultasi dengan beberapa teman, mengenai masalah mogok sekolah ini, saya dan suami memutuskan untuk menerapkan homeschooling, sambil menunggu Melody siap untuk kembali ke sekolah lagi. Kami tidak memberhentikan Melody dari sekolah TK-nya, karena ada kemungkinan ia punya keinginan untuk kembali bersekolah.
Ada terbesit bagaimana nanti SD kalau dia sudah telanjur masuk sekolah formal dan hal serupa ini berulang lagi. Saya dan suami sudah menyiapkan diri untuk menerapkan homeschooling. Karena yang utama bagi kami adalah kenyamanan dan keamanan si anak. Akan menjadi sesuatu sia-sia kalau kami memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai. Kami bukannya tidak menyekolahkan anak kami, mereka tetap bersekolah menimba ilmu sebanyak banyaknya tetapi dengan jalur yang berbeda. Toh tujuan akhirnya sama, mencerdaskan anak dan menjadikan anak lebih kompeten.
Saya jadi teringat akan sebuah pernyataan: Belajar apa saja yang diminati, belajar di mana saja yang disukai, belajar kapan saja diinginkan, belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak, bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani. Dalam UUD 1945 juga disebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, tidak disebutkan harus melalui institusi formal. Akhirnya hati saya dan suami menjadi lebih lega. Kami tidak terpaku akan paradigma sekolah harus di institusi formal, karena di rumah pun kita bisa menyelenggarakan pendidikan yang bermutu bagi anak-anak kita.
a.       Kasus 2
Berguna Bagi Sesama
Ketika masih bekerja aktif, DD adalah seorang pejabat yang seolah – olah akan menghabiskan waktu 24 jam sehari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tampak menyatu dengan jabatannya. Ia adalah jabatannya. Cita – citanya setelah pensiun kelak adalah menikmati hari tua bebas dari kejenuhan pekerjaan, tinggal disuatu daerah yang tenang dengan kebun – kebun hijau yang rindang dan sejuk.
Keinginannya tercapai. Setelah pensiun, selain memiliki sebuah rumah di Jakarta, ia juga memiliki sebuah rumah kebun di selatan Jakarta. Ia tinggal disitu dengan beberapa penjaga. Di tempat itu pula ia mengisi waktu dengan mengerjakan apa saja meskipun tidak produktif.
Tubuhnya yang dahulu gemuk, kini bertambah gemuk! Persendian lututnya menanggung beban berat, sehingga sedikit gontai ia berjalan. Tidak lebih dari satu tahun ia hidup di rumah kebun. Ia sudah tidak sanggup lagi dengan kehidupan yang sunyi dan sepi. Ia wanita karier yang sukses dalam pekerjaan dan keuangan. Bahkan kini setelah ia pensiun, ia mendapatkan apa yang ia idam – idamkan. Namun, ia tidak menikmati apa yang telah ia peroleh dan apa yang ia idamkan selama ini.
Sebagai seorang single woman, mantan pejabat, ia terhalang – halang oleh bayang – bayang masa lalunya dan keadaan sekarang yang dibatas – batasi. Ia tertolong oleh ajakan beberapa ibu lansia yang memintanya untuk ikut serta dengan kelompok sosial masyarakat, menyantuni panti – panti jompo.
Kini DD tampak menghabiskan waktunya dalam kelompok – kelompok lansia. Ia puas dan merasa berharga dapat berperan serta mengambil bagian dari kehidupan yang bermakna. Ia mendapatkan sesuatu yang baru. Ia merasa bahagia karena dapat membantu oorang lain yang membutuhkan di masa tuanya ini.

BAB III
TINJAUAN KASUS BERDASARKAN TEORI ERIKSON

Berdasarkan studi kasus 1, dapat dijelaskan bahwa anak tersebut, Melody, mengalami masalah pada masa perkembangan industry vs inferiority. Melody tidak ingin melanjutkan sekolahnya karena merasa bosan dengan hal – hal yang telah diajarkan di sekolah. Hal ini disebabkan karena kemampuan Melody yang melebihi anak – anak pada usianya.
            Ia sangat bersemangat untuk belajar namun, hal yang ia pelajari di sekolah dan kemampuan belajar Melody berbeda. Kemampuan belajar Melody telah lebih dari yang diajarkan di sekolah sehingga Melody merasa bosan dan tidak bersemangat lagi untuk bersekolah.
Dalam hal ini, orangtua berperan penting untuk memutuskan pilihan yang tepat untuk melanjutkan edukasi Melody. Apakah orangtua Melody akan tetap menyuruh Melody untuk melanjutkan sekolahnya secara formal, atau untuk sementara Melody break dari sekolah formal untuk sementara dan melanjutkan pendidikannya secara informal dirumah dengan melakukan homeschooling. Pada akhirnya, untuk sementara orangtua Melody memilih untuk melakukan homeschooling untuk memberikan pendidikan pada Melody.
Kemudian pada kasus kedua, dapat dijelaskan bahwa DD mengalami salah satu masa perkembangan yang dijelaskan dalam teori perkembangan erikson, yaitu mengenai integrity versus despair. Dalam tahapan ini DD bisa merefleksikan kehidupannya masa lalu. Bahwa ia telah melewati masa – masa sebelumnya dengan baik, sehingga ia dapat menikmati masa tuanya dan merasa puas dan bahagia atas tindakan – tindakan yang telah dilakukannya.

BAB IV
KESIMPULAN
Erikson merupakan murid Sigmund Freud, Erikson pun seorang Freudian. Namun seiring perjalanan waktu ia mengembangkan teori pisoksosial Sigmund Freud dengan tetap menghormati sebagai gurunya.
Teori perkembangan psikososial erikson dibagi kedalam delapan tahap, dari lahir sampai lansia. Dalam setiap tahapannya ia berpendapat bahwa manusia merasakan krisis pada dirinya selama tahapan perkembangannya.
Seperti kasus-kasus pada perkembangan manusia, dapat diketahui setiap manusia mengalami krisis- krisis. Ada yang berdampak secara positif ataupun negatif. Tetaplah lingkungan saling bersinergi untuk mendampingi dan memfasilitasi perkembangan manusia.



DAFTAR PUSTAKA
Crain, W. 2007. Teori  perkembangan Konsep dan Aplikasi. Penerjemah: Yudi. Edisi 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santrock, J.W. 2012. Life Span  Development. Penerjemah: Benedictine Widyasinta. Edisi 13. Jakarta: Erlangga.
Sutarto, T.J. 2008. Pensiun Bukan Akhir Segalanya. Jakarta: Erlangga.

Sumber Lain:
Maya, S. 2013. Ketika Anak Saya Tidak Mau Sekolah. Dari http://theurbanmama.com/articles/ketika-anak-saya-tidak-mau-sekolah.html diunduh pada tanggal 22 Maret 2014 pukul 10.00 WIB.
Desyandri. 2014. Teori Perkembangan Psikososial (Erik Erikson). Dari http://desyandri.wordpress.com/2014/01/21/teori-perkembangan-psikososial-erik-erikson/ diunduh pada tanggal 21 Maret 2014 pukul 15.25 WIB.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DANGE

Hallo.....Enno kembali!!

Kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang makanan tradisional dari Sulawesi Selatan, khususnya pangkep.

Nah, di postingan ini saya akan menjelaskan tentang salah satu makanan khas dari kecamatan Segeri, yaitu, DANGE!!!!

Pasti ada yang penasaran, apa itu dage??? rasanya gimana??? bentuknya kayak apa???? Apa hayooo....!!?? Bagi kamu - kamu yang penasaran, kalian bisa liat gambar dange di bawah ini :
Gimana??? Setelah melihat gambar diatas, apakah kalian tertarik membuat dange??

Sebelum kalian tau cara membuat dange, kalian harus tau asal - usul dange. Inilah sejarah singkat tentang dange :

Dange adalah salah satu makanan tradisional dari kabupaten Pangkep, khususnya dari kecamatan Segeri. Semua bahan - bahan pembuatan dange terbuat dari bahan yang alami dan sehat. Jadi, kalian nggak perlu khawatir tentang pengawet ataupun pewarna sintetis (atau sintesis??) yang dapat merusak tubuh kita.

Kebanyakan orang Bugis pastinya mengetahui dange. Selain rasanya yang enak, dange juga termasuk makanan yang sehat. Bagi para penderita diabetes melitus bisa bahagia jika ingin menikmati dange. Kalian tau?? Kadar gula yang terdapat di danget cukup rendah sehingga aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, ingat, dalam jumlah yang WAJAR!!! Dange juga bisa menjadi makanan ringan yang penuh energi yang dapat dikonsumsi ketika melakukan pekerjaan yang berat. 

Sejarahnya nih, ketika terjadi pemberontakan Kahar Muzakkar di Sul-Sel, dange menjadi makanan yang wajib ada untuk bertahan hidup selama bertahun - tahun di dalam hutan (benar - benar cetar membahana!!).

Salah satu orang segeri yang pertamakali menjual dange yaitu Puang Haji Bora. Dia menjual dange di toko kecilnya yang bernama "Sabah". Haji Bora menjual dange putih. Dange putih yang dibuat Haji Bora sangat digemari oleh warga segeri karena rasanya yang enak dan memiliki aroma khas yang berasal dari arang dan kayu yang digunakan untuk membuat dange.

Keberhasilan dange putih yang dibuat Haji Bora memotivasi warga lain untuk membuat variasi terbaru dari dange, yaitu dange hitam. Nah, kelebihan dange hitam ini, yaitu, rasanya lebih enak dan tahan lama daripada dange putih. Dari situlah dange mulai berkembang dan menjadi makanan khas dari Segeri.

Yupzzz, itulah sejarah singkat tentang dange :) :)

Ok, setelah mengetahui sejarah dange, kita beralih ke cara pembuatan dange :D :D


Bahan - Bahan :
  1. gula kelapa
  2. kelapa parut
  3. tepung ketan hitam (untuk dange hitam) atau tepung ketan putih (untuk dange putih)

Alat :
  1. daun pisang
  2. arang atau kayu bakar
  3. sendok
  4. pisau
  5. sarung tangan
  6. dapo' (alat pembakaran dari tanah liat)
  7. cetakan dange (a'dangeng)

Cara membuat :
  1. iris tipis gula kelapa menggunakan pisau
  2. campur gula kelapa dengan tepung ketan
  3. masukkan kelapa parut ke dalam adonan
  4. panaskan cetakan dange
  5. masukkan adonan dange ke dalam cetakan dange. (hati -hati, cetakannya panas jadi pakai sarung tangan) :)
  6. tutup cetakan dengan daun pisang kemudian balikkan.
  7. tunggu sampai dange-nya matang.
  8. setelah matang, dange siap dinikmati :) :)

:) :) :) :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peristiwa Tanjung Priuk

hallo, hallo, hai.........!!!!

Saya baru muncul setelah beberapa bulan absen (baru ada waktu senggang). Nah, kali ini Enno akan membagi pengetahuan tentang materi sejarah, yaitu, "Peristiwa Tanjung Priuk". I hope you'll like it!!!

Ok, di dalam makalah ini, Enno menjelaskan tentang bagaimana peristiwa tanjung priuk dimulai dan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani peristiwa tanjung priuk ini.............

Yaps, tanpa do-re-mi-fa-sol-la-si-do lagi, Check this out...!!! :) :)

Kata Pengantar

Syukur Alhamdulillah selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga makalah berjudul “Peristiwa Tanjung Priuk” ini dapat terselesaikan.
Apa yang terjadi pada 12 September 1984 tidak bisa dilepaskan dari konteks politik nasional pada masa itu, yakni keinginan Orde Baru menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi pelbagai ormas dan orsospol. Kebijakan ini memunculkan reaksi keras dari pelbagai elemen. Salah satunya adalah komunitas muslim Priok. Bentuk-bentuk resistensi dan kritik komunitas muslim Priok terhadap konsep asas tunggal Pancasila ini melalui penyebaran pamlet dan ceramah dalam pengajian-pengajian, baik yang berskala kecil maupun besar (tabligh akbar).
Dalam penyusunan makalah atau pengumpulan materi, tidak sedikit hambatan yang sempat kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari Bapak guru, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Bapak guru bidang studi Sejarah yang telah  meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan, sehingga termotivasi dan menyelesaikan makalah  ini.
Dan semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

                                      

Pangkajene, 20 September  2012


Penulis

 

Bab 1

Pendahuluan

A. Pendahuluan

Apa yang terjadi pada 12 September 1984 tidak bisa dilepaskan dari konteks politik nasional pada masa itu, yakni keinginan Orde Baru menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi pelbagai ormas dan orsospol. Ini dilakukan setelah Orde Baru merasa cukup kuat dari aspek struktur pemerintahan maupun pengaruh politik yang dibangunnya. Kebijakan ini memunculkan reaksi keras dari pelbagai elemen. Salah satunya adalah komunitas muslim Priok. Bentuk-bentuk resistensi dan kritik komunitas muslim Priok terhadap konsep asas tunggal Pancasila ini melalui penyebaran pamlet dan ceramah dalam pengajian-pengajian, baik yang berskala kecil maupun besar (tabligh akbar).
Jauh sebelum peristiwa 12 September 1984 itu meletus, Amir Biki, salah seorang tokoh masyarakat Priok, telah mengkoordinir pengajian-pengajian yang diikuti para remaja di Tanjung Priok. Bahkan sekitar tiga bulan sebelumnya, setiap satu minggu diadakan dua kali tabligh akbar. Materi ceramah biasanya berkisar tentang maraknya praktek korupsi yang dilakukan oleh aparatur pemerintah, penolakan terhadap program Keluarga Berencana (KB), penolakan terhadap larangan penggunaan jilbab bagi siswi SLTA, hingga kritik keras terhadap rencana pemerintah untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi ormas dan orsospol.
Di tengah situasi itu, terjadi insiden yang kemudian menyulut kemarahan masyarakat muslim Priok. Pada tanggal 8 September 1984, Sertu Hermanu, aparat Babinsa (Bintara Pembina Desa), diisukan masuk ke Mushola As-sa’adah mencopot sisa-sisa pamlet yang berada di dinding tempat tersebut dengan air got. Ia juga masuk ke Mushola itu tanpa terlebih dahulu melepas alas kaki. Rumor ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Tanjung Priok dan Jakarta. Banyak di antara masyarakat muslim Priok yang mendengar peristiwa tersebut menjadi naik pitam. Akhirnya, terjadi insiden pembakaran motor Sertu Hermanu oleh masyarakat sekitar Koja yang kemudian berujung pada penangkapan empat orang warga Koja dan jamaah Mushola tersebut oleh pihak aparat keamanan.

B. Rumusan Masalah

Pada 12 September 1984 tidak bisa dilepaskan dari konteks politik nasional pada masa itu, yakni keinginan Orde Baru menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi pelbagai ormas dan orsospol. Kebijakan ini memunculkan reaksi keras dari pelbagai elemen. Salah satunya adalah komunitas muslim Priok. Bentuk-bentuk resistensi dan kritik komunitas muslim Priok terhadap konsep asas tunggal Pancasila ini melalui penyebaran pamlet dan ceramah dalam pengajian-pengajian, baik yang berskala kecil maupun besar (tabligh akbar).
Berdasarkan hal diatas, timbul pertanyaan sebagai berikut :
1.     Tindakan apa yang menimbulkan terjadinya peristiwa Tanjung Priuk?
2.    Apa saja yang terjadi pada peristiwa Tanjung Priuk?
3.    Berapa banyak korban pda peristiwa Tanjung Priuk?
4.    Bagaimana tindakan para aparat pada kejadian itu?

C. Tujuan

Setelah menyimak latar belakang dan rumusan masalah, ada beberapa tujuan yang harus dicapai. Tujuan yang hurus dicapai adalah sebagai berikut :
1.     Mengetahui sejarah singkat awal terjadinya peristiwa tanjung priuk
2.    Dapat mengetahui tindakan – tindakan yang dilakukan para ulama dan para aparat



Bab 2

Pembahasan

A.        Awal Terjadinya Peristiwa Tanjung Priuk

Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI, Sersan Satu Hermanu yang diketahui non-Islam, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang pengurus mushola yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.
Rabu, 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”.

B.        Tentara dan Ulama

Mubaligh lain, Ustadz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah! Kami siap menolong agama Allah!” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita!”
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

C.        Korban Peristiwa Tanjung Priuk

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

D.        Kesaksian Korban

Menurut kesaksian K.H. Abdul Qodir Djaelani, korban peristiwa Priok, lebih dari dua truk besar mayat diangkut atau orang yang terkena tembakan disusun seperti karung goni. Sesudah truk itu berlalu, datang mobil ambulan dan pemadam kebakaran membersihkan, menyiram darah di jalan raya, dan sisinya hingga bersih. Kesaksian ini serupa dengan yang diungkapkan oleh Yusron, salah seorang saksi mata saat peristiwa pembantaian massal itu berlangsung.
“Mereka yang meninggal tak hanya ditembak, tapi juga dilindas truk. Ketika massa sedang tiarap (menghindari tembakan), kemudian truk lewat, truk ABRI, dari arah utara ke arah selatan. Truk itu melindas massa yang sedang tiarap. Ada massa yang sudah kena tembak, yang lari dikejar, bahkan ada yang lari sampai ke lorong-lorong pun masih dikejar, ditembak dari atas truk………..saya dilempar ke atas truk ditumpuk bersama mayat-mayat. Di atas saya masih ada dua mayat lagi, di bawah saya ada dua lagi”.
Sebagian besar korban, baik yang meninggal maupun luka-luka, langsung dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Darat. Pihak keluarga korban tidak diperbolehkan menjenguk korban yang sedang menjalani perawatan. Kondisi ini menyebabkan kebingungan keluarga korban perihal keberadaan anggota keluarganya; apakah saudara, ayah, atau kakaknya sudah meninggal atau memang masih hidup. Ada sebagian korban yang meninggal, dikuburkan secara massal di beberapa tempat pemakaman umum (TPU).



Bab 3

Penutup

A.  Simpulan

Peristiwa Tanjung Priuk terjadi pada hari Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI, Sersan Satu Hermanu yang diketahui non-Islam, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang pengurus mushola yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Musik bag. 1 :)



Hello again...! Kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang manfaat musik ksusnya bagi otak. Di kalangan remaja pada masa ini musik sangatlah populer. Yah, sebenarnya bukan pada masa modern ini saja sih! Dan bukan hanya kalangan remaja yang suka musik. Mulai dari anak - anak sampai kakek - kakek juga suka dengan musik.

Oh, maaf mungkin saya terlalu berbasa- basi. Nah, silahkan membaca postinganku tentang Musik. :)

Sebuah karya musik harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut merupakan suatu sistem yang ditopang oleh berbagai komponen seperti melodi, harmoni, ritme, timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk. Nah, hal pertama yang ingin saya bahas yaitu, pengertian musik. Berikut beberapa pengertian musik.
  • Musik adalah suatu keindahan, suatu seni yang menggabungkan beberapa nada menjadi suatu harmoni yang enak didengar (by : Enno) >_<.
  • Jamalus berpendapat bahwa musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.
  • Prier berpendapat bahwa musik merupakan curahan kekuatan tenaga penggambaran yang berasal dari gerakan rasa dalam suatu rentetan suara (melodi) yang berirama.
  • Menurut Merriam pada buku “The Anthropology of music” (1964 : 32-33), musik merupakan suatu lambang dari hal-hal yang berkaitan dengan ide-ide, maupun perilaku masyarakat.
  • Menurut Koentjaraningrat pada buku “Pengantar Antropologi” (1986 : 203-204), musik merupakan bagian dari kesenian. Kesenian merupakan salah  satu unsur kebudayaan.


Setelah mengetahui beberapa pengertian tentang musik, selanjutnya kita lanjut ke jenis - jenis musik yang ada di dunia. 
  •  Musik Klasik :  Musik klasik biasanya merujuk pada musik klasik Eropa, tapi kadang juga pada musik klasik Persia, India, dan lain-lain. Musik klasik Eropa sendiri terdiri dari beberapa periode, misalnya barok, klasik, dan romantik.  Dahulu musik klasik di Eropa terutama digunakan untuk keperluan lagu di Gereja ataupun lagu untuk pengiringan Raja. Sejalan dengan perkembangan, mulai juga bermunculan musik klasik yang digunakan untuk keperluan lain, seperti misalnya sebagai hiburan dalam suatu pesta atau pun pertunjukan.

  • Jazz :   Dalam jazz, Namun, pemain ahli akan menafsirkan sebuah lagu dengan cara yang sangat individu, tidak pernah memainkan komposisi yang sama persis dengan cara yang sama dua kali. Tergantung mood pemain dan pengalaman pribadi, interaksi dengan sesama musisi, atau bahkan anggota audiens, seorang musisi jazz / pemain dapat mengubah melodi, harmoni atau waktu penandatanganan di akan. Musik klasik Eropa telah dikatakan media komposer. Jazz, namun, sering ditandai sebagai produk kreativitas egaliter, interaksi dan kolaborasi, menempatkan nilai yang sama pada kontribusi dari komposer dan pelaku, 'tangkas berat [ing] klaim masing-masing komposer dan improvisasi'

  • Blues :  Blues adalah nama yang diberikan untuk kedua bentuk musik dan genre musik yang diciptakan terutama dalam Afrika-Amerika masyarakat di Deep South Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dari spirituil , lagu kerja , hollers lapangan , teriakan, dan narasi sederhana berirama balada . The blues di mana-mana... dalam bentuk jazz , R&B , dan rock n roll dicirikan oleh progresif kord tertentu dengan bar blues dua belas progresi akord yang paling umum dengan catatan biru , mencatat bahwa untuk tujuan ekspresif yang dinyanyikan atau dimainkan secara bertahap rata atau menekuk (minor 3 untuk 3 besar) sehubungan dengan lapangan dari skala besar.

  • Rock :  Musik rock adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50an. Akarnya berasal dari rhythm and blues, musik country dari tahun 40 dan 50-an serta berbagai pengaruh lainnya. Selanjutnya, musik rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk music), jazz dan musik klasik.
    Bunyi khas dari musik rock sering berkisar sekitar gitar listrik atau gitar akustik, dan penggunaan back beat yang sangat kentara pada rhythm section dengan gitar bass dan drum, dan kibor seperti organ, piano atau sejak 70-an, synthesizer. 

  • Heavy Metal :  Heavy metal adalah sebuah aliran musik rock yang berkembang pada 1970-an. Aliran musik ini mengutamakan gitar yang cukup banyak. Sejarahnya, Nama Heavy metal digagas oleh Band Hard Rock Tahun 60'an Steppenwolf, dalam lagu mereka yang berjudul 'Born To Be Wild' (ada di baris kedua bait kedua).


  • Reggea :  Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut "Burru" yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut "talking drums" (drum yang bicara) yang asli dari Africa Barat. "Jonkanoo" adalah musik budaya campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum, rattle (alat musik berderik) dan conch tiup.  Dengan berpedoman pada iringan gitar pas - pasan dan putus - putus adalah interprestasi mereka akan R&B dan mampu jadi populer di tahun 60an. Selanjutnya semasa musim panas yang terik, merekapun kepanasan kalo musti mainin ska plus tarinya, hasilnya lagunya diperlambat dan lahirlah Reggae.

  • R&B :  R&B (ditulis juga RnB, singkatan dari rhythm and blues) adalah genre  musik populer yang menggabungkan jazz, gospel, dan blues, yang pertama kali diperkenalkan oleh pemusik Afrika-Amerika. Istilah ini pertama kali dipakai sebagai istilah pemasaran dalam musik di Amerika Serikat pada tahun 1947 oleh Jerry Wexler  yang bekerja pada majalah Billboard.Istilah ini menggantikan istilah musik ras dan kategori Billboard Harlem Hit Parade pada Juni 1949.

  • Gospel :  Gospel adalah genre yang didominasi oleh vokal dan biasanya memiliki tema Kristen. Beberapa subgenrenya adalah contemporary gospel dan urban contemporary gospel. Sebenarnya lagu jenis Gospel ini memiliki nuansa mirip dengan Rock n Roll (oleh karena Rock n Roll sendiri sebenarnya merupakan fusion atau gabungan dari Rock, Jazz, dan Gospel), dahulu awalnya diperkenalkan oleh orang-orang Kristen kulit hitam di Amerika.

Okay, karena pembahasan tentang musik sepertinya agak panjang, saya membagi pembahasan tentang musik menjadi 2 bagian. Dan inilah akhir postinganku tentang musik bag. 1. Kalau kalian - kalian masih penasaran tentang musik, silahhkan baca postinganku tentang musik bag. 2. :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS